kursi belakang

 Kursi Belakang


Di SMAN 10 Bulukumba, kelas 12 IPA punya cerita serem yang bikin siswa bergidik. Kelas itu tua, dengan kursi kayu reyot di barisan belakang. Konon, kursi nomor 13 ditempati hantu gadis yang bunuh diri puluhan tahun lalu. Namanya Sari, siswi pintar yang diganggu teman-temannya sampai depresi.


Delapan siswa kelas itu sering cerita soal hantu itu: empat cowok dan empat cewek. Ada Andi, cowok berani yang suka tantangan. Budi, sahabatnya yang penakut tapi lucu. Cakra, si atlet basket yang cuek. Dan Dito, yang paling penasaran sama hal-hal mistis. Ceweknya: Eka, pintar tapi takut gelap. Fira, tomboi yang nggak percaya hantu. Gina, gadis manis yang suka baca buku horor. Dan Hana, yang paling sensitif, sering mimpi buruk.


Suatu malam, saat ujian malam, sekolah sepi. Mereka delapan lagi belajar kelompok di kelas itu. Lampu redup, angin malam berhembus dari jendela retak. "Jangan duduk di kursi belakang, ya," kata Eka pelan, matanya melirik kursi kosong nomor 13. Andi tertawa. "Ah, bohong! Gue duduk sana aja." Dia tarik kursi itu, duduk santai sambil baca buku.


Tapi tiba-tiba, suhu ruangan dingin banget. Budi merinding. "Andi, lo ngerasa nggak? Kayak ada yang ngeliatin." Cakra coba tenangin, tapi tangannya gemetar. Fira nyalain senter HP-nya, tapi cahayanya kayak redup sendiri. Gina baca dari bukunya, "Konon, Sari muncul kalau ada yang duduk di kursinya. Dia tarik korban ke dunia lain."


Dito penasaran, dekati kursi. "Gue coba foto." Flash HP-nya nyala, tapi di layar muncul bayangan gadis berambut panjang, berdiri di belakang Andi. Semua jerit! Andi bangun cepat, tapi kursinya kayak nempel di lantai. "Gue nggak bisa gerak!" teriaknya. Hana mulai nangis, "Aku denger suara... 'Kembalikan tempatku...'"


Eka pegang tangan Fira, berdoa pelan. Gina lempar garam dari tasnya—cerita lama bilang itu bisa usir hantu. Tapi angin kencang, buku-buku beterbangan. Bayangan Sari muncul samar: wajah pucat, mata hitam pekat. "Kalian... ganggu aku lagi?" suaranya bergema, dingin menusuk tulang.


Budi ingat cerita lama: harus minta maaf atas nama sekolah. "Sari! Kami minta maaf atas yang dulu! Jangan sakiti Andi!" Mereka semua ikut berteriak maaf. Tiba-tiba, kursi Andi longgar. Bayangan hilang, suhu normal lagi. Lampu menyala terang.


Pagi harinya, mereka cerita ke guru. Kursi 13 langsung dibakar. Sejak itu, kelas aman. Tapi delapan sahabat itu tak pernah lupa malam itu. Mereka belajar, jangan remehin cerita lama. Hantu kursi belakang mengajarkan: penggangguan masa lalu bisa balik kapan saja, dan maaf adalah kunci pelarian.


Komentar

Postingan Populer