hantu kelas adalah temanku

 Hantu Kelas Adalah Temanku


Di SD Bintang Jatuh, ada kelas 5A yang sepi dan angker. Bangku-bangkunya berderit sendiri, dan jendela selalu tertutup meski nggak ada angin. Dua sahabat di kelas itu: Adi, cowok berani berusia 11 tahun yang suka baca komik horor, dan Sari, cewek pintar yang takut gelap tapi setia sama Adi. Mereka selalu duduk bareng di baris tengah, janji nggak pisah meski sekolah punya cerita serem.


Suatu pagi, saat hujan deras, guru telat datang. Kelas kosong, cuma Adi dan Sari yang sengaja datang pagi buat ngerjain PR kelompok. "Kita tunggu aja di sini," kata Adi sambil buka tas. Tapi Sari ngerasa aneh. "Adi, lo denger nggak? Kayak ada yang bisik-bisik." Adi geleng, tapi matanya melirik ke bangku pojok yang selalu kosong. "Itu kursi Rina, yang hilang tahun lalu. Katanya, dia jadi hantu dan suka main sama anak yang sendirian."


Mereka tertawa gugup, tapi tiba-tiba kertas PR Adi terbang sendiri ke lantai. Sari jerit pelan, pegang lengan Adi. "Lihat! Ada tangan... putih pucat!" Di pojok kelas, muncul bayangan kecil: gadis berpakaian seragam lusuh, rambut acak-acakan, mata besar tapi kosong. "Aku Rina," bisiknya pelan, suaranya kayak angin ribut. "Kalian... temenku sekarang?"


Adi berani, meski lututnya gemetar. "Kamu hantu? Kenapa lo di sini?" Rina mendekat, dinginnya bikin ruangan beku. "Aku mati gara-gara jatuh dari pohon pas main sendirian. Sekarang, kelas ini rumahku. Kalian nggak takut?" Sari nangis, tapi Adi pegang tangannya erat. "Kami takut, tapi... kalau lo temen, jangan nakal dong."


Rina tersenyum samar, tapi giginya kuning dan tajam. "Main yuk. Kalau nggak, aku ambil salah satu dari kalian." Mereka dipaksa main petak umpet di kelas gelap. Adi sembunyi di bawah meja, Sari di lemari buku. Tapi saat giliran Rina cari, suaranya bergema: "Aku tahu lo di mana... temenku." Pintu kelas terkunci sendiri, lampu padam. Sari ditemukan Rina, dan tangan hantu itu pegang bahunya. "Kamu lucu. Ikut aku selamanya?"


Adi lompat keluar, tarik Sari. "Rina! Kami temenmu, tapi jangan sakiti! Kami janji dateng tiap pagi, cerita sama kamu!" Rina berhenti, bayangannya pudar. "Baiklah... tapi kalau bohong, aku ambil kalian berdua." Hujan berhenti, guru datang, kelas normal lagi. Tapi Adi dan Sari tahu, Rina nunggu mereka besok.


Sejak itu, mereka datang pagi-pagi, bisik cerita ke bangku kosong. Hantu kelas jadi "teman" aneh mereka. Tapi di hati, mereka takut: kapan Rina bosan dan ambil nyawa? Kisah itu ajarin, persahabatan bisa datang dari mana saja—bahkan dari dunia lain yang dingin dan gelap.


(Word count: 398)

Komentar

Postingan Populer